Limitasi mimpi

March 18th, 2008 | by kangdiman |

Bertahan atas kesinambungan antara bentuk diriku sebagai manusia. Memerlukan kekuatan yang lebih untuk mempertahankan existensi tubuh ku, ruh ku sebagai manusia.
Sebuah pembenaran atas segala prilaku busuk, keterpuraan, najisme. Paham yang hanya di tempuh oleh sesuatu yang wujud.
Bermimpi menjadi sang pencipta..
apakah itu mimpi atau sebenar-benarnya…
Kembali pada sebuah wujud yang bersujud pada “sesuatu”..
mimpikah diriku..atau sebuah sebenar-benarnya …
larik larik mata mendegar teriakan-teriakan jahanam, mimpi..atau sebuah keterbalikan.
aku sebuah manusia yang bermimpi atau aku sebuah wujud lain yang bermimpi sebagai aku..
berjalan di sebuah dua gravitasi yang berbeda dengan jeda dan waktu yang sama.
lalatkah? tuhankankah? nabikah? ibliskah?
dalam tiga jeda mungkin kita belum temukan jawaban, suara ini mungkin yang sama di dengar wujud manusiaku dan wujud-wujud kalian yang lain..
jika lalat, sedasyat ini kah kita “sesama” berwujud manusia..?
jika tuhan, melodramatic pada “sesama” berwujud manusia..?
dan selanjutnya…
tetap kita tempuhkah mimpi atau “nyata” ini.
Telingaku di korok malam ini otaku di ludahi sebuah wujud, bertahta dan berteriak dia ..
“bertahanlah”
ruh ini ada pada wujudmu sekarang….!!!
semua atas bertahan dan pembenaran pada wujudmu..

Post a Comment